(TERBARU HAJI 2012) PANDUAN LENGKAP MANASIK HAJI, KAJIAN MP3 & VIDEO GRATIS TATACARA HAJI YANG MABRUR DENGAN TERJEMAH BAHASA INDONESIA

Reblogged from طبيب الطب النبوي | Dokter Pengobatan Nabawi |:

Click to visit the original post
  • Click to visit the original post
  • Click to visit the original post

BERHAJI DI BAWAH BIMBINGAN RASULULLAH

Pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji merupakan karunia Allah yang menjadi dambaan setiap muslim. Predikat ‘Haji Mabrur’ yang tiada balasan baginya kecuali Al Jannah tak urung sebagai target utama dari kepergian ke Baitullah. Namun, mungkinkah semua yang berhaji ke Baitullah dapat meraihnya? Tentu jawabannya: mungkin, dengan dua syarat:

1. Di dalam menunaikannya harus benar-benar ikhlas karena Allah, bukan karena ingin menyandang…

Read more… 2.495 more words

Panduan belanja kamera DSLR 2012

Reblogged from dunia digital:

Click to visit the original post
  • Click to visit the original post
  • Click to visit the original post
  • Click to visit the original post

Selamat tahun baru 2012. Masih mencari kamera DSLR di tahun ini? Atau ada yang kebetulan ingin ganti ke model yang lebih bagus tapi masih bingung mau memilih yang mana? Saya coba buat analisa ringan dari pilihan kamera DSLR di awal tahun ini untuk tiap segmen dan tiap rentang harga, siapa tahu bisa jadi panduan belanja anda atau sekedar menambah wawasan saja.

Read more… 829 more words

Download Kumpulan Ebook Gratis

Reblogged from Elmudunya's Blog:

Link ebook dibawah ini di ambil dari beberapa sumber, terdiri dari berbagai format : exe, pdf, word dan Djvu. Buat yang belum punya software Djvu, silahkan download terlebih dahulu Windjvu reader disini dan untuk PRC Reader di sini

NOVEL FIKSI

AGATHA CHRISTIE

Kasus-kasus Perdana Poirot

Tugas-Tugas Hercules

Misteri Karibia

Anjing Kematian

Kenangan Kematian

Kereta 4.50 dari Paddington

Maut Di Udara…

Read more… 3.445 more words

Solo Traveler.. Bali – Lombok

PART I : The Journey Begin

Setelah pulang merantau dari negeri seberang, ada hal yang tidak biasa ketika menaiki sepeda motor. Sudah hampir  empat tahun ini tidak pernah berhubungan sama sekali dengan sepeda bermesin motor itu. Rasa takut yang selama di kampung dulu tidak pernah aku rasakan, kini rasa itu begitu mengikatku ketika menaiki kendaraanbermotor. Dan siang itu, ketika aku memutuskan untuk menuju ke Stasiun kereta api Jember untuk melakukan solo traveler, aku meminta saudara untuk mengantarkan ke stasiun yang berjarak 30 km lebih, aku berasal dari daerah di selatan Jember, yang langsung berbatasan dengan samudra Hindia. Awalnya aku berada di depan, belum setengah perjalanan aku sudah mulai merasa mual, pusing2 dan rasanya mau muntah, ketegangan menjalar keseluruh tubuhku… melewati jalan yang penuh dengan sepeda motor serta jalan yang sempit dengan tidak adanya pembatas jalan membuatku selalu was was kalau motor dari depan akan berbelok atau menikung dengan tiba2. Dan pada titik klimaks aku menyerah, dengan tubuh yang masih kaku dan jantung yang berdebar gak karuan aku menghentikan sepeda motor dan meminta sepupu untuk memboncengku. Akhirnya setelah hampir 30 menit menempuh perjalanan dari rumah menuju stasiun KA terbesar di Jember, tepat jam 14.00 WIB kurang 10 menit aku tiba di stasiun.

Kulihat jadwal kereta api yang akan menuju ke stasiun banyuwangi baru akan berangkat jam 15.00 WIB. Masih ada waktu satu jam untuk mengisi perut yang kubiarkan kosong sejak tadi pagi. Setelah menemukan rumah makan yang cocok dengan selera yang tiba2 datang, aku memasuki sebuah rumah makan di depan stasiun dan memesan seporsi ikan mujair sebagai menu santap makan siang ini. Bersama sepupu menikmati makan siang di bawah hujan yang mengguyur kota jember di temani minuman favorit, black coffee hot. Kerennn…!!! Kebayangkan rasanya setelah tiga tahun gak pernah liat yang namanya air turun dari langit dengan begitu derasnya… awesomelah…!!! Hahahahaa

Setelah membeli karcis di loket yang tersedia, aku memasuki peron 10 menit sebelum KA sri tanjung berangkat ke stasiun banyuwangi baru. Oh ya, tau gak harga tiketnya…. harga Yang cukup membuatku terbelalak takjub, hanya 4.000 perak dari jember ke banyuwangi. Rp 4.000 perak dari jember ke Rel terakhir di ujung timur pulau jawa dari rangkaian panjang rel di seluruh pulau jawa…

Ada sedikit perubahan yang terjadi sejak awal oktober 2011 ini, penjualan karcis disesuaikan dengan jumlah tempat duduk, jadi kita gak perlu berebut tempat duduk dengan penumpang lain. Tidak ada lagi penumpang yang berdiri atau tiduran di tengah gerbong yang biasanya banyak terjadi sebelum pemberlakuan kebiajakan pembatasan ticket yang di jual sesuai dengan jumlah tempat duduk yang tersedia. Hanya perlu tambahan kebersihan dan penertiban pedagang asongan di dalam kereta untuk membuat kereta api ini menjadi angkutan massal yang nyaman dan di minati masyarakat luas.

Menaiki kereta ekonomi di perlukan sebuah kesabaran, waktu tempuh untuk jember – banyuwangi adalah 4 jam.  Tapi cukup terobati dengan pemandangan yang tersaji di sepanjang perjalanan, hutan, persawahan, sungai sungai, perkampungan dan perkebunan. Tepat jam 19.00 atau lebih dikit aku sampai di stasiun Banyuwangi baru.. dingin mulai menyergap waktu aku bergegas keluar peron. Sambil menggendong tas punggung aku berjalan ke selatan, mengikuti beberapa penumpang yang lebih dulu di depan. Melewati jalanan kecil yang agak gelap akhirnya aku sampai di pelabuhan ketapang. Gak jauh memang pelabuhan dari stasiun, hanya beberapa menit dengan berjalan kaki kita dah bisa sampai ke pelabuhan ketapang.

Kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Bau laut mulai tercium dan suara ombak yang pelan2 mengingatkanku tentang pantai… kucari loket penjualan karcis untuk menaiki kapal fery ke pelabuhan gilimanuk bali. Dengan bertanya ke seorang satpam yang berjaga di pintu masuk dan dengan sigap dia menunjuk ke sebuah bangunan di ujung. Aku bergegas kesana, berbasa basi sebentar sebelum akhirnya membeli ticket seharga rp 6.000. setalah melewati beberapa bangunan kulihat kapal fery sudah standbye di dermaga, dan menurut informasi dari penjaga pelabuhan, bahwa kapal fery berangkat ke pelabuhan gilimanuk setiap 15 menit sekali.. hmm.. cukup padat juga ternyata, jadi kita gak perlu terburu2 kalau mau menyeberang, mau santai santai dulu atau mau langsung juga gak ada masalah. Tapi tidak denganku, aku memutuskan untuk langsung menaiki lambung kapal dan mencari tempat duduk yang pas, keputusan yang akan aku sesali nanti ketika aku berada di terminal Gilimanuk…

semilir angin bertiup dengan lembut seolah menyapaku dengan riangnya… welcome to the beach.. wow..!!!

kurang lebih 30 menit kapal sudah mendarat di pelabuhan Gilimanuk Bali. Aku bergegas turun, menikmati bau laut yang semerbak, melewati beberapa truk yang memulai perjalanan meninggalkan lambung kapal. Berjalan sendirian di sebuah pulau yang asing bagiku… meski telah beberapa kali aku ke bali, melewati pelabuhan yang sama, tapi bali tetep terasa asing bagiku… aneh!! Kalau orang bilang bali itu eksotik, aku akan menyebutnya fantastic… baru berada di pintu masuk bali dari arah jawa aku sudah merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang gak bisa hanya di tuangkan dalam sebuah tulisan…  kata-kata atau sebuah kalimat untuk bali gak akan pernah cukup terwakili hanya dengan menyebutnya indah, eksotik, atau mengagumkan sekaligus… aku menyebutnya dengan ‘wow….’

Kembali ke pelabuhan gilimanuk, setelah keluar dari kapal, aku bergegas mencari terminal yang katanya gak terlalu jauh dari pelabuhan… melewati beberapa pedagang di sepanjang perhentian bisa, aku berhenti sebentar, memesan secangkir kopi, eh bukan secangkir, tapi segelas.. karena gelas yang di berikan adalah gelas plastic air mineral..  menikmati sedikit aroma kopi dan aroma laut yang bercampur menjadi satu.. sedikit demi sedikit mulai menghangatkan badanku. Dari penjual itulah aku di beritahu kalau terminal ada di luar pelabuhan. Berjalan sebentar melewati pos jaga dan terminal gilimanuk berada di seberang jalan.  Aku melangkah kesana, berjalan dan berjalan, sendirian, tanpa kenalan, di sebuah negeri indah yang asing. Bali….

Memasuki gerbang terminal yang besar, berdiri kokoh di kanan kiri jalan masuk seolah mengejekku.. aku tersenyum kecut memandangi sekeliling, sepi, muram dan janggal. Itulah kesan pertama yang aku rasakan ketika melangkah ke dalam terminal. Ada sebuah bus mini sedang menunggu penumpang, kosong melompong. Kuedarkan pandanganku ke setiap sudut terminal, ke bawah kolong meja di sudut kiri dan kanan juga tak kutemukan bis antar propinsi dari jawa. Ku masih berharap akan ada bus dari jawa yang akan memasuki terminal jurusan Denpasar. Sepersekian detik aku termangu, melangkah dengan gontai mendekati bus mini yang tampak aneh. Dari sopir dan penjual minuman ringan disisi jalan aku memperoleh keterangan kalau bus antar propinsi dari jawa tidak boleh memasuki terminal, katanya ini sebuah peraturan daerah untuk memberi ruang kepada bus2 lokal untuk mendapatkan penumpang dari gilimanuk ke Denpasar. Bus akan berangkat ke Denpasar jam 22.30 tergantung ada tidaknya penumpang. Aku memandang jam tanganku. Masih jam 20.00 kurang, 2,5 jam aku harus menunggu bisa mini ini berangkat ke Denpasar dan itupun belum pasti tergantung dengan jumlah penumpang yang ada. Kalau perjalanan dari gilimanuk ke Denpasar bisa di tempuh dengan 4 jam perjalanan, berarti aku akan sampai di terminal ubung pada jam setengah tiga dini hari. Itu kalau perjalanan lancar. Penyesalan pertama kenapa aku tidak mencari bus jurusan Denpasar di ketapang.

Aku mencoba mencari jalan keluar bagaimana caranya aku tidak kemalaman tiba di ubung. Menurut estimasi aku bisa sampai di ubung sekitar jam 23.00 WITA kalau perjalanan lancar. Tapi kalau melihat yang terjadi sekarang, tidak mungkin aku tepat waktu tiba di ubung. Aku mulai memeras otak bagaimana caranya sampai di ubung  gak terlalu malam dan gak harus menunggu bus di terminal yang belum pasti keberangkatannya. Aku keluar terminal, mencoba mencari bus antar propinsi yang baru keluar dari pelabuhan, tapi nihil. Ada larangan menaikkan penumpang di sekitar terminal.

’75.000 sampai ubung’ seorang ojek menawarkan bantuannya…

Aku hanya menjawab ‘tidak bang, terimakasih’

Berdiam diri di luar terminal tanpa tau apa yang harus aku lakukan. Hanya menunggu keajaiban datang, tapi hingga jam menujukkan pukul 22.00 WITA aku masih belum beruntung. Tidak juga mendapatkan tumpangan mobil yang menuju Denpasar, tidak juga bus antar propinsi yang telah kutunggu dari tadi. Dengan berat hati aku kembali kedalam terminal, berharap sudah ada penumpang di dalam bis. Tidak ada pilihan lain, hanya ini satu2nya yang bisa mengantarkanku ke terminal ubung, untuk melanjutkan perjalanan solo traveler ini. Dengan sabar aku melangkah, membeli sebotol air mineral dan menaiki bus yang sudah terisi beberapa penumpang.

Akhirnya tepat sebelum jam 22.30 bus berangkat menuju Denpasar. Hanya ada sepuluh penumpang yang berada di dalam bus. Aku mencoba memejamkan mata. Lelah kurasa, di luar sana gelap mulai menyelimuti perjalanan, meninggalkan perkotaan dan memasuki hutan serta persawahan. Tak berapa lama bus merapat di sisi kiri jalan, sopir dan kene’nya memasuki sebuah pura, sembahyang. Ini biasa di lakukan orang bali (sopir bus) bila melewati tempat ini. Dan kembali bus melakukan perjalanan setelah proses ritual sopir bus tersebut selesai.

Aku membayar 30.000 untuk perjalanan ini, cukup murah. Cocok untuk kantongku yang gak begitu tebal. Hehehee…  aku kembali terdiam. Seorang diri melakukan perjalanan tanpa tau mau kemana dan bagaimana. Masih kuingat pesan temanku di bbm tadi sore waktu di kereta api. ‘kalau sampai kuta, cari aja penginapan murah di sekitar jl. Poppies, disana juga banyak menyewakan motor’  begitu bunyi pesan yang masuk. Aku memang menghubungi beberapa temen yang tau tentang seluk beluk bali, tempat2 wisata mana saja yang harus aku kunjungi, ada beberapa pilihan yang di tawarkan untuk mengunjungi tempat2 wisata yang menarik. Pertama adalah dengan menyewa motor yang banyak tersedia di sekitar poppies, dengan biaya 50.000 untuk waktu 24 jam. Dan yang kedua dengan trans bali, yang katanya masih baru di bangun beberapa bulan ini, bus trans bali atau trans denpasar ya… hehehe .. gak tau pasti.. tapi rute ini memang memutar di sekitaran Denpasar sampai Nusa Dua.

Aku juga menghubungi saudaraku yang berada di bali, yang sudah lama tak bersua, yah.. hanya sekedar just say hello ….  Dia hanya bilang, “kalau dah sampai ubung, telp lagi aja.. ntar aku jemput.. “ dan aku hanya menjawab “iya.. “.

Time going to slowly, waktu serasa melambat, sedang kegelapan di luar sana masih menyelimuti perjalanan ini, mata susah sekali ku pejamkan. Sesekali ku lirik telephone genggam yang setia menemaniku selama perjalanan ini, beberapa pesan masuk menanyakan aku sudah sampai mana, bagaimana di perjalanan, dan beberapa nasehat ketika aku nanti sampai di terminal ubung. Cukup banyak membantu informasi yang kudapatkan untuk tempat yang sudah lama gak pernah aku kunjungi lagi. Kabar kalau di terminal ubung aman bagi pelancong agak membuatku tenang, karena sudah di pastikan aku akan sampai menjelang pagi dini hari. Aku hanya berguman dalam hati, “this journey is what you want from long time ago, so enjoy it!!!”…

Bus memasuki terminal ketika hanphoneku kehabisan energy untuk terus bertahan hidup alias lowbat. Menuruni bus dan memperhatikan terminal, ada yang berubah pikirku, tapi apanya aku gak tau.. hehehe…  rasanya dah lama sekali aku gak disini, dan itupun cuman beberapa kali.. duluuuu sekali, gak ada yang bisa kuingat saat ini. Gelap itu yang aku rasakan, kata itu yang paling tepat menggambarkan setiap pelosok negeri ini, gak di jawa gak di bali. Pengalaman berada di negeri yang malamnya pun terlihat terang benderang.. hehehe.. dan sekarang berada di negeri yang pasokan listriknya kembang kempis.. sangat terlihat sekali perbedaannya, oh Negeriku tersayang…

Sudah hampir jam 02.30 dini hari, sepi menyelimuti terminal terbesar di pulau dewata. Tidak banyak bus yang stand by di dalam terminal, hanya beberapa bus saja yang masih parkir di pinggirannya.  Kalau di bandingkan dengan terminal purabaya Surabaya, terminal ubung ini masih kalah jauh, dari segi luas dan banyaknya bus yang tersedia, juga dalam hal mobilitas penumpang. Apa karena aku memasuki terminal ini pada pagi dini hari, atau karena memang keadaannya seperti ini, I dunno know…  tapi menurut informasi yang aku peroleh, memang di bali sarana transportasi umum sangat sulit di temukan atau kalau boleh di bilang minim. Bahkan untuk Ibukota provinsi sekalipun, di Denpasar.  Hihihi..

Setelah turun dari bus yang membawaku kesini, hal yang pertama aku cari adalah kamar mandi, lengket rasanya badan dan wajah ini, setelah cuci muka dan membayar 2000 untuk sekali cuci muka, aku melangkah menyusuri warung2 makan yang berjajar di sisi kanan terminal. oh ya… di luar negeri aku tidak pernah menemukan kamar mandi memakai tarif, alias gratis… heheheee…  Aku memasuki sebuah warung yang menyediakan tempat untuk nge charge hp, sebuah papan bertuliskan “charge Rp 4.000” tepat di atas sebuah pendingin minuman, tarifnya lumayan untuk pengecasan hp di terminal ini, 4.000 rupiah, masih lebih mahal daripada di Surabaya yang hanya memasang tarif 3.000 rupiah…. Hehehehee, aku kok suka membanding2kan harga ya jadinya.. LOL, ada beberapa macam makanan yang di tawarkan di etalasenya, persis seperti warung makan pada umumnya, beberapa minuman tertata rapi di pinggir meja serta beberapa makanan ringan di sebuah rak di sisi kanan warung. Setelah memesan makanan dan segelas kopi penghangat sambil menunggu batrei penuh, aku mengobrol dengan empunya warung, seorang penduduk muslim di bali… wow, baru pertama kali ini aku bertemu dengan penduduk asli bali yang beragama islam di tengah mayoritas penduduknya yang beragama hindu. Dan inilah keragaman yang aku temukan di sini, dan inilah indahnya Indonesia… baru ngeh kan kalau Indonesia itu penuh keragaman dan keindahan… hahahaha…..

Dari bbm temanku tadi sore dan juga dari ibu penjaga warung tersebut aku di anjurkan untuk naik ojek jika mau ke Kuta, memang tujuan awalku ke bali adalah kuta, karena di sanalah banyak penginapan murah dan pantai yang penuh peri2 yang turun dari langit yang sedang sibuk menghitamkan kulitnya ditengah terik matahari pantai kuta… hohoho… lebay banget yak…

Dan disana juga banyak di sewakan motor yang bisa aku gunakan untuk mengunjungi tempat2 wisata di Bali. Tapi di jam segini, di pagi dini hari tentu gak tepat rasanya kalau aku harus ke kuta sekarang. Setelah batre penuh dan membayar makanan, aku melangkah keluar, mungkin ada tempat yang bisa aku gunakan untuk merebahkan badanku barang sejenak sambil menunggu matahari muncul besok pagi. Aku memang sengaja tidak menghubungi saudaraku walaupun tadi telah berpesan kalau sudah sampai untuk menghubunginya… ada perasaan ewuh pakewuh yang melarangku untuk melakukan hal seperti itu.. dan satu hal lagi, memang sejak lama aku merindukan sebuah perjalanan di mana aku bisa tidur dan menginap dimana saja, tanpa ada yang mengkhawatirkanku, baik di terminal, di stasiun, di emperan pertokoan ataupun di pinggir jalan.. melakukan perjalanan seperti ini seperti menemukan tantangan seberapa berani dan seberapa mandiri aku berjalan seorang diri di wilayah yang tidak aku kenal. Aku memeriksa tempat duduk di peron, sepi tapi tidak nyaman untuk merebahkan badan, terlalu terang dan bising dengan suara televise yang menyala. Aku melangkah keluar bangunan seperti pendopo yang menyediakan tempat duduk berjajar rapi dan sebuah televisi tersebut. Di samping kantor terminal kulihat beberapa orang merebahkan badan, emperan (bukan emperan sih, apa ya namanya) dengan berlantaikan ubin putih yang sedikit kotor karena bekas hujan sore tadi, untung ada sebuah sapu dan lap untuk membersihkan tempat tersebut. Yah, tempat ini cocok untuk rebahan barang dua atau tiga jam sambil menunggu pagi menjelang. Ku jadikan tas punggung yang dari tadi ku gendong sebagai bantal, mencoba memejamkan mata sampai akhirnya benar2 tertidur……. Zzzzz zzzzz zzzzz tidur dulu ya…

Suara ribut kenek bus membangunkanku, kulihat sudah banyak orang lalu lalang di dalam terminal, aku bergegas bangun dan kembali melangkah ke kamar mandi dan kembali membayar 2.000 rupiah untuk jasa sekali cuci muka.. hohoho.. benar kata pepatah, Hidup itu tidak gratis.. lol

Aku melangkah keluar terminal untuk mencari ojek yang akan mengantarkanku ke kuta. Seorang ojek mendekati dan menawarkan jasanya, “ayo kalau mau ke kuta” dan aku menjawab “wani piro.. ??? “ hahahahaaa…  Ada tawaran 30.000 sampai kuta, setelah melakukan negosiasi yang alot akhirnya aku di kasih diskon 5.000 rupiah…  cukup standard menurut informasi yang aku peroleh.

Menyusuri jalan2 protokol di denpasar yang penuh kendaraan di kanan kiri jalan. Gak jauh berbeda dengan kota2 besar di Indonesia pada umumnya. Aku menyadari kembali bahwa aku benar2 berada di bali, sepanjang perjalanan aku melihat banyak sekali pura. Memang tepat rasanya kalau bali mendapat julukan pulau seribu pura, memang sih aku gak sempet menghitung dan ngapain juga aku menghitung pura yang aku lihat.. kayak orang kurang kerjaan aja.. hehehee… aku hanya bisa mengatakan banyak!!!

Arsitektur khas bali dengan gapura dan pura2nya semakin terlihat beragam. Ada yang menggunakan batu yang berwarna hitam kelam sebagai bahannya(CMIIW) dan ada yang berwarna seperti batu bata,  khas sekali menurut pandanganku. Di setiap pura seringkali kulihat pohon besar menaunginya, sepertinya itu menjadi sebuah keharusan. dan dua buah patung terlihat gagah di kiri kanan memasuki sebuah pura, dengan kain kotak2 hitam dan putih menutupi bagian bawahnya, semacam papan catur kalau belum pernah melihatnya. Tidak hanya patung yang di beri kain hitam-putih tersebut, pohon2 besar yang tumbuh di sekitar pura juga di lingkari dengan kain semacam itu.

Motor melaju dengan kecepatan rata2, menembus padatnya lalu lintas Denpasar pagi ini, melewati beberapa jalan artileri, memasuki jalan2 sempit yang penuh dengan pengendara sepeda motor sebelum akhirnya sampai di depan gang poppies I, tempat yang aku bilang kepada abang ojek dimana tujuanku di pantai kuta. Setelah aku membayar sesuai kesepakatan di awal, meski dengan sedikit ngedumel sang ojek menerimanya, katanya karena aku orang pertama yang menggunakan jasanya di hari itu, makanya aku di kasih potongan harga.. hehehee…

Kulihat di sebelah kanan jalan ada papan nama “Jl. Poppies I” tepat di sebuah gang kecil. Oh, aku berada tepat di gang yang di bilang temenku kemaren. Jalan kuta ini di penuhi dengan hotel dan rumah makan terkenal. Mulai dari hard rock café dan hotel, starbucks, mc Donald dan beberapa nama yang sulit aku ingat. Berdiri di jalan kuta seperti aku berada di Negara lain dan bukan di Indonesia, banyak sekali orang yang berkulit putih daripada coklat muda atau kuning langsat. Memang gak mendominasi sih, tapi cukup terasa perbedaannya. Di sisi kiri terdapat tembok panjang yang menutupi pantai dari jalan setinggi satu setengah meter, otomatis dengan adanya tembok tersebut kita tidak bisa lagi menyaksikan pantai dari jalan. Kita harus masuk lewat pintu2 yang tersedia cukup banyak. Di ujung jalan, tepat di depan samping hard rock café terdapat Pintu gerbang yang paling besar untuk memasuki area pantai, selain itu gerbang2 kecil setiap jarak yang tidak terlalu jauh. Ada tembok kecil di belakang pintu gerbang, yang tetap menutup pandangan untuk melihat kedalam lewat jalan kecuali gerbang yang paling besar yang aku bilang tadi, oh ya, ada gerbang besar juga di ujung jalan yang lain…

Aku memasuki sebuah gerbang kecil di depan gang poppies memasuki area pantai.  masih terlalu pagi, belum banyak pengunjung di pantai yang berpasir putih bersih, cukup lapang kulihat. Biru sepanjang mata memandang, dengan ombak yang masih bersahabat. Sejenak menikmati suasana pantai yang terkenal ke seluruh penjuru dunia ini, indah! Aku berjalan menyusuri pantai, berhenti dan duduk di bawah pohon yang tumbuh di sepanjang pinggiran pagar. Beberapa petugas terlihat sibuk membersihkan area pantai dari sampah, botol mineral kosong dan daun2 yang berguguran. Aku termangu sendirian, apa yang harus aku lakukan sekarang.

Aku berjalan keluar dan memasuki gang poppies, berharap menemukan penginapan murah, semakin jauh aku masuk semakin aku tidak menemukan apa2, aku blank tentang tempat ini, nama penginapan yang kemaren aku baca waktu browshing di internet lupa aku catat. Kembali ke pantai sambil membawa caramel macchiato, menikmati secangkir coffee di pinggri pantai adalah kegemaranku…. Nikmat sekali rasanya.

Di tengah acara minum coffee aku mencoba menghubungi saudaraku, waktu aku ceritakan kalau aku sekarang lagi berada di pantai kuta, dia langsung menjawab “Hah!!! Ngapain disana.. bla bla bla, kena marah deh.. :p … singkat cerita akhirnya aku disusul oleh keponakanku dan di culik untuk tinggal di sana selama aku di bali… hoohohooo

Oke Stop sampai disini cerita selama di Bali, terlalu banyak kalau aku harus menceritakan disini juga, nanti aku akan menuliskannya secara terpisah bagaimana aku menyusuri tempat2 menarik di bali, menghabiskan malam di sekitar pantai kuta, bagaimana aku menikmati malam terakhir di Bali yang tidak bakalan pernah aku lupakan, dan bagaimana aku harus lari di kejar2 oleh orang yang baru aku kenal…  saat ini kita hanya akan focus keperjalanan Jember-bali dan Lombok…

Scene kita potong sampai disini dan langsung menuju saat aku mau berangkat ke pelabuhan Padang Bay Bali, untuk selanjutnya ke Gili trawangan, Lombok..

Bersambung…..Image

Kartini di dadaku..

Belumlah fajar menyingsingkan lengannya….
Ayam pun masih membisu di kedinginan malam..

Suara air menggerojok panci tempat menanak nasi,,
Meniup api di tungku yang usang,, berusaha mendapatkan panas dengan tiupanmu..
Sekali, dua kali,, sampai api mulai merambati kayu kayu kering..

Angin dingin menerobos dengan santai dari dinding dinding bambu,,
Tanpa jaket yang melekat di tubuh,,
Hanya pakaian tipis yang selalu menghiasi tubuh yang semakin renta
Menutupi benda yang sejak dulu aku suka..
Tempat aku menanti butiran butiran salju putih bersih
Yang selalu aku suka…

Masih dengan menahan kantuk engkau bergerak, menari di pagi yang buta..
Dengan gemulai memulai setiap gerakan dengan syahdu
Berpenonton piring piring kotor sisa semalam,
Panci yang mulai berlobang,, tungku yang tidak lagi berwarna hitam,, tapi telah berganti pekat..

Aku, mungkin masih dibuai oleh bidadari bidadari perawan saat itu..
Dengan selimut tebal menutupi sekujur tubuh tanpa celah..
Setetes air yang kental menghiasi ujung bibir..

Engkau masih bergerak dengan gemulai..
Diiringi denting denting piring yang bersentuhan..
Sendok sendok yang bernyanyi merdu di pendengaranmu,…
Suara minyak yang mulai memanas,,, nyaring terdengar..

Kala mentari menyapa dengan hangat.
Semakin terlihat dengan jelas senyumanmu di ujung bibir
Kerutan-kerutan tampak di ujung mata,,
Tapi kau masih tersenyum dalam kelelahan

Dan aku terbangun dari mimpi sewaktu cahaya menyapa kamar gelap
Tempat tubuhku meringkuk dan meringkih,,,
“Kenapa pagi cepat sekali datangnya!”

Ah Mak…
Apakah engkau masih menjalani rutinitas itu..
Engkau pernah menolak dengan halus ketika aku menawarkan untuk mengambil pembantu saja..

“Aku masih cukup kuat untuk melakukan semua ini!”

Jawaban yang membuatku tak mampu merangkai kata kata lagi untuk meyakinkan tawaranku.

Ah Mak,,,!!
Apakah kini kau masih cantik dengan kerutan kerutan di sekujur wajah dan tanganmu???
Masihkah senyuman itu ada tersimpan untukku..
Nanti ketika aku pulang..

Ah Mak..
Apakah kau juga masih sering tertawa lepas ketika melihat adegan adegan lucu..
Yang membuatku tersenyum sendiri,,

Mak.. Aku kangen!!!!
Apakah kau juga kangen aku mak….???
Tapi apakah aku pantas mendapatkannya mak…??

21 April 2010 @ Hay an Nasser, Madinah Munawarrah..

Tulisan ini aku dedikasikan untuk

Manusia terindah yang telah melahirkanku, yang telah mengajariku menatap dunia yang penuh bunga berwarna warni, yang membuatku cukup tegar untuk menjelajahi gurun pasir yang gersang dan panas ini,

Sepupu-sepupuku (Kartini-kartiniku) yang melanglang buana ke negeri Taiwan, yang masih dengan tegar menghadapi candu candu kebebasan

“Alvina Laila Maulida” yang akan menginjak usia 5th hari ini… Apakah kau masih ingat sama om??? Happy birthday to you…

dan semua perempuan2 sahabatku (Kartini-kartini Indonesia),, yang memberikan lukisan warna warni untuk dunia ini..

the last.
Aku Sayang Kalian……………!!! Sungguh..!!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.